JADIKABAR.COM JAKARTA – Kawasan Senayan, Jakarta Pusat, mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Rabu pagi (20/5). Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat memadati sepanjang Jalan Gerbang Pemuda, mulai dari depan gedung TVRI hingga kawasan Senayan Park (SPARK), dalam sebuah aksi damai yang membawa beragam tuntutan, mulai dari dukungan terhadap ekonomi kerakyatan hingga jeritan keadilan bagi kaum buruh.
Sejak pukul 10.00 WIB, massa mulai berdatangan dengan membawa spanduk, poster, hingga atribut organisasi masing-masing. Suasana sempat membuat arus lalu lintas menuju arah Gedung DPR RI lumpuh total, sementara jalur menuju kawasan Gelora Bung Karno (GBK) terpantau padat merayap akibat volume kendaraan yang bercampur dengan massa aksi.
Aksi besar ini diikuti oleh berbagai aliansi masyarakat seperti Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Tani Merdeka Indonesia, Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNARA), kelompok mahasiswa, serikat buruh, hingga komunitas ojek online yang tergabung dalam SPEED (Serikat Pengemudi Daring).
Meski berasal dari latar belakang berbeda, ribuan peserta aksi hadir dengan satu semangat yang sama: menyuarakan aspirasi di ruang publik secara damai.
Di tengah teriknya matahari Jakarta, gelombang massa dari kelompok pedagang, petani, dan masyarakat kecil tampak membentangkan spanduk besar bertuliskan “Tegakkan Pasal 33 UUD 1945”.
Mereka menyatakan dukungan terhadap arah kebijakan ekonomi Presiden yang dinilai harus semakin berpihak pada ekonomi kerakyatan.
Koordinator aksi, Zulkarnaini, dalam pernyataan sikapnya menegaskan bahwa ekonomi nasional tidak boleh hanya menguntungkan kelompok besar atau segelintir elite ekonomi.
“Petani, pedagang pasar, nelayan, UMKM, dan masyarakat kecil harus mendapat perhatian dan kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujarnya di hadapan massa.
Dalam aksi tersebut, mereka menyerukan agar negara hadir lebih kuat menjaga keadilan ekonomi, melawan praktik monopoli dan kartel, memperkuat koperasi serta ekonomi desa, hingga memastikan stabilitas harga hasil pertanian dan distribusi pangan nasional berjalan lebih adil.
Namun aksi di Senayan pagi itu tak hanya berbicara soal ekonomi kerakyatan.
Gelombang massa dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) juga turut menyuarakan tuntutan yang lebih tajam terkait nasib pekerja dan kebijakan ketenagakerjaan.
Mereka membawa spanduk raksasa bertuliskan “Kebangkitan Kaum Buruh Melawan Union Busting, Outsourcing, serta Hilirisasi yang Berkeadilan”.
Dari atas mobil komando, orasi demi orasi menggema menuntut pemerintah agar lebih tegas melindungi hak-hak buruh.
KPBI mendesak penghentian praktik union busting, menolak kebijakan outsourcing yang dinilai merugikan pekerja, meminta hilirisasi industri lebih berpihak pada kepentingan nasional, hingga menuntut penciptaan lapangan kerja dengan upah layak dan kepastian kerja.
Di tengah aksi, perhatian massa juga tertuju pada nasib 133 buruh PT Amos Indah Indonesia yang disebut mengalami PHK sepihak dan belum menerima hak-haknya.
Poster-poster bernada pilu diangkat tinggi oleh peserta aksi.
“Upah ditahan, kami tak bisa bayar kontrakan.”
“BPJS kami dinonaktifkan, tidak bisa berobat.”
“Sudah tiga bulan kami hidup tanpa upah.”
Kalimat-kalimat sederhana itu menjadi potret nyata jeritan kaum buruh yang berharap suara mereka didengar.
Besarnya massa yang turun ke jalan membuat aparat keamanan menerapkan pengamanan ketat di sepanjang lokasi aksi.
Ribuan personel gabungan dari kepolisian dan TNI disiagakan di berbagai titik strategis untuk memastikan jalannya demonstrasi tetap tertib dan kondusif.
Meski sempat menyebabkan kepadatan lalu lintas parah, aksi berlangsung relatif damai tanpa insiden berarti.
Menjelang siang, sekitar pukul 13.30 WIB, massa mulai membubarkan diri secara tertib.
Momentum pembubaran terjadi sesaat setelah iring-iringan kendaraan Presiden melintas di sekitar lokasi dengan pengamanan ekstra ketat dari Paspampres.
Perlahan, lautan massa mulai berangsur meninggalkan kawasan Senayan. Jalan yang sempat lumpuh sedikit demi sedikit kembali bergerak.
Namun satu hal yang tertinggal dari aksi tersebut adalah pesan kuat dari ribuan suara yang turun ke jalan: tentang harapan akan ekonomi yang lebih adil, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan tuntutan agar buruh mendapatkan keadilan yang selama ini mereka perjuangkan.












